Monolog: Untuk Aku

Aku : Menjelang harinya, aku semakin merasa sedikit tertekan. Sedikit saja...

Diriku : Mulai merasa? Kenapa sekarang?

Aku : Memangnya kenapa kalau baru sekarang aku merasa? Kemarin memang belum seperti ini.

Diriku : Tapi kamu yang memilih untuk meneruskan pekerjaan ini.

Aku : Ya, memang. Lalu?

Diriku : Kenapa harus merasakan "sedikit" tertekan itu?

Aku : Aku tidak mengerti. Apa tidak boleh?

Diriku : Aku tidak mengatakan seperti itu. Karena pilihanmu adalah keputusanmu. Keputusanmu adalah resikomu. Resikomu adalah keluhan yang sebaiknya tidak kamu keluarkan.

Aku : Jadi, benar tidak bisa?

Diriku : Sudah kubilang, aku tidak mengatakan demikian. Karena bagaimanapun, kamu yang memilih untuk setia menjalaninya hingga akhir. Hingga selesai semua pengorbanan yang kamu berikan untuk segala hal ini. Kenapa harus kamu selipkan keluhan yang bisa mengancam kejenuhan, dan mengendurkan semangat yang sudah terlanjur kamu bagikan kepada banyak orang?

Aku : Aku semakin tidak mengerti. Aku hanya membantu. Aku ini membantu. Hanya membantu. Kalau suatu saat aku tidak bisa, tidak ada masalah bukan?

Diriku : Kamu tidak sadar bahwa kamu menjadi penting. Bantuanmu adalah hal penting. Karena itu, pekerjaanmu bukan sekedar "hanya". Bantuanmua yang berarti itu, sangat diperlukan dan justru menjadi inti dari segala aktivitas yang sedang kamu jalani. Haruskah mundur? Dan membiarkan semuanya bertanya-tanya kebingungan dengan keputusan "gila" yang kamu buat? Haruskah kamu melihat ratusan orang menjadi kerepotan hanya karena harus menerima egomu yang "luar biasa"? Haruskah....

Aku : Sudah!! Aku paham. Aku paham yang kamu maksud. Aku tidak bisa melihat itu semua. Tapi siapa yang memperhatikan aku?

Diriku : Perlukah kamu minta orang memperhatikanmu?

Aku : Entahlah, aku hanya ingin orang melihat apa yang aku kerjakan.

Diriku : Begitu pentingkah apa yang kau kerjakan sekarang hingga orang lain harus melihatmu?

Aku : .......

Diriku : Setiap orang punya kerjanya masing-masing. Hal terpenting adalah kesetiannmu melakukannya hingga mencapai titik maksimal dan optimal. Hendaklah segala hal yang kamu berikan itu diberikan dengan tersembunyi, maka Tuhan lah yang akan melihatnya dan membalasnya kepadamu. (bdk. Mat 6:4)

Aku : Aku mengerti. Terima kasih, hati nurani....

Comments